Friday, December 17, 2021

STATUS TERNAKAN BUAYA DI INDONESIA (Part 1)

BUAYA (Crocodylus spp) atau 'Crocodile' merupakan sejenis haiwan atau binatang termasuk dalam kelompok reptilia yang telah hidup di planet bumi semenjak jutaan tahun lalu dimana ia sering disebut sebagai binatang purba yang masih di jumpai hingga kini. apa pun binatang ini tersebar hampir di seluruh dunia dimana ia dapat ditemukan di kawasan berpaya, sungai yang besar dan juga dapat kita temukan di danau-danau besar. Sebagaimana binatang reptilia lainnya seperti ular, penyu, kura-kura didapati haiwan jenis buaya juga terus berkembang biak dengan bertelur. Telur buaya akan diletakan disarang yang telah dibuat dari timbunan daun-daun kering kemudian dicampur dengan lumpur. Kedudukan sarang telur bagi buaya selalunya memang berada dipinggiran sungai atau pada lopak-lopak tanah kering yang terdapat dipinggiran danau atau paya (rawa). Dalam waktu kurang lebih tiga bulan biasanya telur-telur buaya tersebut menetas dimana induknya yang akan selalu menjaga dan menunggu disekitar sarang membawa anak-anak buaya yang baru lahir (baby crocodile) ke tempat yang berair. Masa inilah induk buaya menjadi ganas kepada sesiapa yang cuba mendekatinya dan anak-anaknya. Anak-anak buaya setelah berada di dalam air sebagai habitatnya secara naluri mereka dapat mencari makan sendiri dengan menangkap mangsanya seperti pepatung atau capung, belalang, katak dan kodok, ikan dan binatang air lainnya. Kajian saintis mendapati dimana makanan buaya tergantung dari usianya serta ukuran tubuhnya. Dilaporkan makanan buaya yang lebih dari satu meter panjangnya sudah boleh menangkap kura-kura, tikus, musang atau ikan yang agak berukuran besar. Dalam pada itu bagi buaya yang telah dewasa dengan panjang badan diatas tiga meter dapat menangkap babi hutan, rusa bahkan bisa juga menyerang manusia. Mungkin binatang ini masih wujud sampai sekarang ini dari perubahan zaman ke zaman adalah disebabkan jenis makanannya yang cukup bervariasi. Artikel malam rabu ini dalam blog "Anim Agro Technology" saya menulis mengenai industri ternakan buaya di Indonesia sebagai salah satu pengeluaran produk asas buaya di dunia untuk dijadikan bahan rujukkan pembaca semua.

Penulis telah merujuk beberapa sumber dimana mendapati terdapat lima jenis buaya yang hidup di perairan Indonesia dan mungkin sama beberapa spesis terdapat di Malaysia iaitu dikenali dengan Buaya Muara (Crocodylus porosus), Buaya Siam (Crocodylus siamensis), Buaya Rawa (Crocodylus palustris), Buaya Irian (Crocodylus novaguineae) serta Buaya Senyulong atau Buaya Julung atau Buaya Supit (Tomistoma schelegelii). Jenis buaya muara hampir dapat ditemukan diseluruh perairan sungai, rawa, danau bahkan sampai ke muara yang airnya payau akan tetapi sebaliknya spesis buaya siam dan buaya rawa yang hidupnya hanya di perairan tawar masa ini sudah tidak pernah lagi ditemukan di habitat aslinya mungkin dilaporkan ia sudah pupus dilapangan. Jenis buaya irian hanya ditemui diperairan tair awar di Papua dan buaya julung sebagai spesis buaya yang endemik dimana ia hanya ditemui di perairan tawar Sumatera dan Kalimantan. Mungkin di Malaysia memang ada buaya julung ini dibeberapa lokasi seperti dilaporkan oleh penduduk tempatan. Buaya senyulong bentuk fisikalnya berbeza dengan jenis buaya lainnya terutama ukuran kepala dan muncungnya yang lebih panjang hampir sama seperti jenis buaya gavial yang ditemukan di sungai Gangga di India, atau sering disebut juga sebagai 'valse gavial'. Buaya senyulong hidup di rawa dan sungai dengan makanan asas utamanya ikan. Sejak zaman dahulu manusia memanfaatkan haiwan buaya terutama untuk digunakan dagingnya sebagai sumber protein berkhasiat disamping dari daging rusa, daging babi hutan dan binatang lainnya. Bagaimana pun untuk masyarakat moden sekarang selain dari pada kulit reptilia lainnya dilaporkan kulit buaya dimanfaatkan sebagai bahan kulit yang berkualiti tinggi untuk pembuatan beg tangan kulit, tali pinggang, kasut atau sepatu, beg duit (dompet), key holder dan bahan perhiasan lainnya. Produk beg kulit dari buaya terbaik didakwa buatan Perancis atau Jepun dimana harga jual paling rendah berkisar antara RM 11,500 - RM 14,500 satu unit bergantung kepada jenama. Perdagangan kulit buaya yang dilakukan sejak tahun 1970-an bahkan dalam tiga dekad yang lalu Indonesia pernah dilaporkan menjadi sebuah negara pengeksport kulit buaya terbesar terutama kulit buaya yang berasal hasil tangkapan dari alam dalam bentuk 'bahan mentah' atau raw material untuk dihantar ke negara-negara pembuat kulit terkenal Jepun, USA dan juga Eropah.

Dilaporkan dimana kalangan masyarakat di pedalaman Sumatera, Kalimantan dan Papua ada menangkap buaya di alam semulajadi untuk dijual kulitnya kepada para pengumpul kulit buaya di bandar dimana mereka juga menjual anak buaya yang baru lahir dan buaya yang masih kecil kepada para penternak buaya. Dalam usaha mengawal populasi buaya dihabitat aslinya pemerintah Indonesia memalui Kementerian Kehutanan sekarang Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah mengeluarkan peraturan untuk melindungi populasi buaya dengan melarang menangkap buaya di alam serta mengharuskan penternakan buaya dengan menangkap anak-anak buaya dari alam atau membesarkan anak buaya dari hasil induk buaya yang bertelur dan dibesarkan di premis peliharaan (crocodile farming). Dilaporkan negara Thailand adalah salah satu negara yang berhasil menternak puluhan ribu ekor buaya di dalam kandang  peliharaan baik dari hasil pengumpulan anak buaya liar untuk tangkapan dari alamsemulajadi atau yang dihasilkan dari penetasan telur diambil dari sarang dengan menggunakan mesin penetasan. Dilaporkan dimana habitat buaya di alam masa sekarang semakin terancam dan ini adalah disebabkan oleh berbagai faktor seperti semakin kurangnya habitat atau tempat hidup buaya. Ini kerana kawasan habitat dimusnahkan akibat perladangan dimana ini memungkinkan penduduk dan juga sungai-sungai sedia ada terganggu bagi buaya hidup. Kes penurunan kualiti air seperti pencemaran yang berpunca menurunnya sumber makanan berupa ikan atau makanan lainnya serta makin meningkatnya perburuan makanan buaya untuk diambil kulitnya bagi dijual pemburu buaya sebab harganya cukup mahal. Populasi buaya di Papua terutama di daerah Bintuni, Merouke dan di rawa-rawa danau dan sungai di daerah Membramo Hulu merupakan habitat buaya terbesar di Indonesia yang diharapkan masih menjadi tempat mencari anak-anak dan buaya muda untuk dijadikan induk buaya yang diternak (Sila lihat foto disebelah). Dengan demikian maka masyarakat Indonesia masih boleh menjual anak-anak buaya kepada para penternak komersil di kawasan komersil sebagai tambahan penghasilan mereka.

Potensi menternak Buaya melibatkan usaha untuk mengembang dan aktiviti membiakan jenis binatang tertentu yang jumlahnya dialam sudah terbatas atau sudah menurun termasuk buaya. Jumlah buaya liar dihabitat semakin berkurangan sehingga diperlukan beberapa usaha  untuk ianyadi perbanyakan atau fibiakkan melalui pembiakan tersusun (captive breeding). Untuk melindungi jumlah populasi buaya di habitat asal dimana sejak tahun 1978 pemerintah Indonesia melalui Keputusan Menteri Kehutanan telah mengeluarkan surat keputusan tentang melarang aktiviti penangkapan buaya di Papua dan diharuskan untuk usaha jual beli kulit buaya dari hasil penternakan buaya. Aktiviti menternak buaya boleh dilakukan dengan mengumpulkan anak-anak buaya dari habitat asal untuk dipelihara dan dibesarkan. Pada masa ini jumlah para penternak buaya di Indonesia tersebar dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Papua. Sebagai contoh dimana penternak buaya di Asam Kumbang Medan mempunyai sebanyak 2,800 ekor, di Blanakan Subang (PT Perhutani ada 407 ekor), Taman Buaya Tanggerang (ada 500 ekor), PT. Surya Raya di Kelurahan Tritip Balikpapan ( populasi 3,000 ekor) PT. Bintang Mas di Entrop Jayapura (Populasi 12,000 ekor). Selain dari penangkar tersebut diatas terdapat juga penangkar buaya PT. Nindya Tanggerang, Pluit Jakarta, Cibarusah Bekasi serta Karang Asem Bali yang jumlahnya tidak diketahui. Dari beberapa data yang dikumpulkan ternyata CV. Bintang Mas mempunyai buaya yang paling banyak jumlahnya, terutama bibitnya berasal dari daerah hulu sungai Membramo, Merouke, Pulau Dolok, dan Tembuni (Teluk Bintuni). Dilaporkan dimana jumlah buaya yang diternak di Indonesia masih jauh dari mencukupi pada had maksima jumlah buaya yang  jumlahnya kurang dari 20,000 ekor. Artikel ini dibahagikan kepada dua (2) bahagian iaity Part 1 dan Part 2 yang perlu dibaca bersama. Semuga artikel ini memberi info berguna kepada semua pembaca blog anim agro technology kali ini. Wasallam!!!.
TERNAK BUAYA... DI NEGARA INDONESIA...
INDUSTRI DIKAWAL... PIHAK BERKUASA...
POTENSI BAIK... DIAMBIL KULITNYA JUA...
BAHAN EKSPORT... MAHAL HARGANYA...

By,
M Anem,
Senior Agronomist,
Precint 11, Putrajaya,
WP Putrajaya,
Malaysia.
(22 Safar 1443H).

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.